The Indonesia Times - Krisis ekonomi yang kian menjerat Iran kembali memakan korban jiwa. Seorang anggota kepolisian dilaporkan tewas akibat penusukan saat berupaya meredam kerusuhan di wilayah barat Teheran, Kamis (7/1/2026), di tengah gelombang protes nasional yang telah berlangsung hampir dua pekan. Polisi tersebut diketahui bernama Shahin Dehghan, anggota kepolisian Malard.
Kantor berita Fars melaporkan Dehghan tewas setelah ditikam ketika berusaha mengendalikan massa demonstran. Aparat menyatakan penyelidikan untuk mengungkap pelaku penusukan masih berlangsung.
Baca juga: Shehbaz Sharif dan Presiden Iran Sepakat Dorong Stabilitas Kawasan
Kerusuhan ini dipicu oleh krisis ekonomi akut, ditandai lonjakan harga kebutuhan pokok dan anjloknya nilai tukar mata uang nasional. Protes bermula pada 28 Desember lalu, ketika para pedagang di Teheran turun ke jalan menentang mahalnya harga dan merosotnya daya beli.
Tekanan ekonomi semakin terasa ketika nilai tukar dolar AS menembus 1,4 juta rial, sementara euro melampaui 1,7 juta rial, mencerminkan runtuhnya kepercayaan terhadap ekonomi Iran. Situasi tersebut memicu kemarahan publik yang meluas ke berbagai daerah.
Berdasarkan penghitungan AFP dari pernyataan resmi dan laporan media lokal, demonstrasi telah menyebar ke 25 dari 31 provinsi Iran.
Bentrokan antara massa dan aparat keamanan dilaporkan menewaskan puluhan orang, termasuk anggota pasukan keamanan.
Baca juga: AS Targetkan Jaringan Minyak Iran, Penutupan Selat Hormuz Picu Lonjakan Harga
Gelombang protes ini disebut sebagai yang terbesar sejak demonstrasi nasional 2022–2023, yang dipicu kematian Mahsa Amini dalam tahanan polisi. Meski dipicu isu ekonomi, aksi kali ini kembali menguji legitimasi pemerintah Iran di tengah tekanan domestik dan situasi geopolitik yang belum stabil.
Pemerintah Iran mengakui adanya tuntutan ekonomi dari para demonstran. Namun otoritas tetap memperingatkan agar aksi protes tidak berubah menjadi kerusuhan, seraya menjanjikan “respons tegas” terhadap pihak-pihak yang dianggap menciptakan ketidakstabilan. Media pemerintah juga melaporkan adanya penangkapan terhadap sejumlah demonstran yang dituding sebagai perusuh.
Di sisi lain, eskalasi protes Iran turut memantik reaksi internasional. Kementerian Luar Negeri Iran mengecam pernyataan sejumlah pejabat Amerika Serikat yang dinilai mencampuri urusan dalam negeri. Kritik itu muncul setelah Senator AS Lindsey Graham menyatakan dukungan terbuka kepada demonstran Iran dan mengeluarkan peringatan keras kepada Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Baca juga: Dave Laksono: Izin Militer AS Masuk Wilayah Udara RI Harus Lewat Prosedur
Pemerintah Iran menilai sikap Washington bukan bentuk kepedulian terhadap rakyat Iran, melainkan kelanjutan dari kebijakan tekanan dan ancaman. Teheran juga menegaskan bahwa sanksi ekonomi AS merupakan faktor utama yang memperparah krisis ekonomi dan memicu ketidakstabilan sosial.
Di tengah situasi yang terus memanas, kematian aparat keamanan dan meluasnya protes menegaskan bahwa Iran kini berada di persimpangan genting antara tuntutan ekonomi rakyat dan pendekatan keamanan negara.
Editor : Rico