TheIndonesiaTimes - Setelah penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro lewat operasi militer di Caracas, Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan ancaman terbuka. Kali ini, sasaran bidikannya adalah Presiden Kolombia Gustavo Petro, pemimpin negara tetangga Venezuela yang juga dikenal berhaluan kiri.
Trump menyamakan Kolombia dengan Venezuela, menuding negara itu berada di bawah kepemimpinan yang ia anggap “bermasalah”. Trump melabeli Petro dengan tuduhan serius terkait narkotika.
Baca juga: Gencatan Senjata AS-Iran Berakhir Besok, Trump Tunggu Hasil Negosiasi
“Kolombia juga sakit, dipimpin orang sakit yang suka membuat kokain dan menjualnya ke AS,” ujar Trump, Senin (5/1/3026) tanpa menyertakan bukti konkret atas klaim tersebut.
Nada ancaman pun tak disembunyikan. Trump bahkan meragukan masa depan kepemimpinan Petro.
“Ia tak akan melakukannya (memimpin Kolombia) untuk waktu lama,” katanya, mengisyaratkan kemungkinan intervensi lebih jauh.
Baca juga: Shehbaz Sharif dan Presiden Iran Sepakat Dorong Stabilitas Kawasan
Lebih jauh, Trump secara terbuka membuka peluang operasi militer Amerika Serikat di Kolombia dengan dalih memerangi “bandar narkoba”.
“Itu terdengar bagus untuk saya,” ucap Trump, menegaskan pendekatan keras yang kembali ia dorong dalam kebijakan luar negerinya.
Pernyataan ini menambah daftar panjang ketegangan hubungan AS–Kolombia. Relasi kedua negara memang memburuk sejak Petro, yang kala itu menghadiri Sidang Umum PBB di New York, ikut dalam demonstrasi mendukung Palestina pada September lalu. Sikap tersebut berujung pada pencabutan visa Petro oleh otoritas AS.
Baca juga: Pembicaraan AS-Iran di Islamabad Gagal, Isu Nuklir Jadi Penghambat
Tak berhenti di situ, Trump juga menjatuhkan sanksi terhadap Petro dengan menuduh pemerintah Kolombia gagal menekan perdagangan narkoba dan membiarkan kartel tumbuh subur. Tuduhan itu ditolak secara implisit oleh Petro, yang selama ini mengkritik pendekatan “perang narkoba” ala Washington.
Ancaman terbaru Trump memunculkan kekhawatiran eskalasi konflik di kawasan Amerika Latin. Jika Venezuela telah menjadi preseden, Kolombia kini menghadapi risiko dijadikan medan berikutnya atas nama keamanan, dengan konsekuensi geopolitik yang jauh lebih luas.
Editor : Rico