The Indonesia Times -Bencana longsor di Kampung Babakan, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, kembali membuka persoalan lama: lemahnya kesiapsiagaan dan sistem peringatan dini di wilayah rawan bencana.
Sebanyak 89 orang dilaporkan diduga tertimbun material longsor, sementara lima korban telah ditemukan meninggal dunia dan puluhan rumah rusak, Sabtu (24/1/2026).
Wakil Ketua Komisi V DPR RI, Syaiful Huda, mendesak Basarnas dan aparat gabungan bergerak cepat, namun juga menyinggung soal antisipasi yang dinilai belum optimal.
“Kami meminta Basarnas, BNPB, dan seluruh aparat gabungan segera melakukan pencarian dan upaya penyelamatan maksimal. Fokus utama adalah menyelamatkan nyawa,” ujar Huda.
Di tengah upaya evakuasi, risiko longsor susulan menjadi ancaman serius. Curah hujan yang masih tinggi membuat tanah di lokasi bencana labil, membahayakan tim penyelamat maupun warga sekitar. “Petugas harus sangat hati-hati. Mitigasi risiko saat proses evakuasi sangat penting agar tidak ada korban tambahan akibat tanah yang masih labil,” kata Huda.
Namun di balik desakan percepatan evakuasi, muncul pertanyaan tajam: mengapa wilayah rawan longsor ini kembali memakan korban besar? Huda menilai rangkaian bencana hidrometeorologis dari Sumatera hingga Jawa Barat seharusnya menjadi alarm keras bagi pemerintah pusat dan daerah. “Musibah beruntun ini mengharuskan semua level pemerintahan, hingga ke desa, untuk selalu waspada. Koordinasi antarlini harus diperketat agar peringatan dini dari BMKG bisa cepat sampai ke masyarakat,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa cuaca ekstrem belum mereda dan potensi bencana lanjutan masih tinggi. Warga yang tinggal di lereng perbukitan dan bantaran sungai diminta lebih peka terhadap tanda-tanda alam. “Jika hujan turun dengan intensitas tinggi dan durasi lama, segera lakukan langkah preventif,” ujarnya.
Tragedi di Bandung Barat ini bukan sekadar soal respons darurat, tetapi juga cermin kegagalan mitigasi jangka panjang. Publik menanti evaluasi serius atas tata ruang, pengawasan kawasan rawan, serta efektivitas sistem peringatan dini, agar bencana serupa tidak terus berulang dengan korban yang semakin besar.