TheIndonesiaTimes - PT Supreme Energy Muara Laboh (PT SEML) resmi memulai tahap pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Muara Laboh Unit 2 berkapasitas 80 megawatt (MW). Pembangunan ini ditandai dengan acara Tajak Sumur Pertama di Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Liki Pinangawan Muara Laboh, Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat.
Acara tersebut dihadiri oleh Gubernur Sumatera Barat, Bupati Solok Selatan, perwakilan Kementerian ESDM, pejabat PT PLN (Persero), serta jajaran manajemen PT SEML.
Direktur Utama PT SEML, Rony Gunawan, menyampaikan bahwa pihaknya akan melakukan pengeboran enam hingga delapan sumur produksi dan injeksi untuk proyek Unit 2.
“Pembangunan ini diharapkan selesai pada akhir 2027 dan akan menambah pasokan listrik bersih bagi sekitar 435 ribu rumah tangga,” ujarnya, Kamis (15/10/2025).
Berdasarkan Power Purchase Agreement (PPA) yang ditandatangani bersama PLN pada Desember 2024, listrik dari PLTP Muara Laboh Unit 2 akan memperkuat jaringan kelistrikan Sumatra serta menurunkan emisi karbon hingga 460 ribu ton CO₂ per tahun.
Total investasi proyek ini mencapai USD 490 juta, dibiayai melalui pinjaman konsorsium lembaga keuangan internasional seperti Japan Bank for International Cooperation (JBIC), Asian Development Bank (ADB), dan beberapa bank Jepang, dengan jaminan dari Nippon Export and Investment Insurance (NEXI).
Selama tahap pembangunan, proyek ini diperkirakan menyerap 1.500 tenaga kerja lokal serta memberikan kontribusi ekonomi melalui royalti dan bonus produksi untuk pemerintah daerah.
PLTP Muara Laboh Unit 1 dengan kapasitas 85 MW telah beroperasi sejak 2019 dan menunjukkan kinerja yang stabil. Selain di Sumatera Barat, PT Supreme Energy juga mengelola PLTP Rantau Dedap (91,2 MW) di Sumatera Selatan dan tengah menyiapkan eksplorasi panas bumi di Gunung Rajabasa, Lampung Selatan.
“Kami berkomitmen mendukung percepatan transisi energi bersih nasional melalui pengembangan panas bumi yang berkelanjutan,” tutur Rony.