The Indonesia Times - Nvidia kini berada di bawah tekanan besar akibat konflik teknologi antara Amerika Serikat dan China yang belum mereda. Meski pemerintah AS mulai melonggarkan pembatasan dengan mengizinkan ekspor chip H200, hingga kini Beijing belum memberikan persetujuan resmi, membuat akses Nvidia ke pasar China praktis tertutup dan pangsa pasarnya mendekati nol.
Padahal, China sebelumnya menjadi salah satu penyumbang utama pendapatan Nvidia. CEO Jensen Huang, Rabu (17/6/2026) bahkan berulang kali mengingatkan bahwa kehilangan pasar tersebut bisa menjadi kerugian strategis bagi industri teknologi AS secara luas, bukan hanya bagi perusahaannya.
Di tengah kebuntuan penjualan H200, Nvidia bergerak cepat dengan mengandalkan chip terbaru mereka, Vera. Produk ini merupakan CPU pertama Nvidia yang dirancang khusus untuk mendukung AI otonom (agentic AI), dan dijadwalkan mulai tersedia pada Agustus 2026. Perusahaan juga telah membuka pemesanan awal untuk klien di China sebagai upaya menghidupkan kembali bisnisnya di kawasan tersebut.
Vera diklaim memiliki performa hingga 1,8 kali lebih cepat dibandingkan prosesor pesaing, dan diposisikan sebagai solusi utama untuk komputasi inferensi—segmen AI yang kini semakin penting seiring pergeseran dari pelatihan model ke penggunaan langsung.
Namun, langkah ini tidak mudah. Nvidia harus menghadapi persaingan ketat dari Intel dan AMD yang juga agresif di pasar data center AI. Di sisi lain, sejumlah perusahaan cloud di China memang mulai menunjukkan minat terhadap Vera, tetapi masih dalam tahap uji coba dan belum menjamin pembelian dalam skala besar.
Kendala lain juga membayangi, mulai dari kompatibilitas software hingga kompleksitas migrasi dari sistem yang sudah berbasis chip lokal China. Faktor harga juga menjadi pertimbangan, dengan satu chip Vera dibanderol lebih dari US$20.000.
Nvidia menargetkan pendapatan hingga US$20 miliar dari Vera dalam tahun fiskal ini. Namun, keberhasilan target tersebut sangat bergantung pada kemampuan perusahaan menembus kembali pasar China yang kini semakin dipengaruhi dinamika geopolitik.
Di tengah perubahan lanskap AI global yang kini berfokus pada inferensi, China menjadi pasar krusial. Bagi Nvidia, keberhasilan atau kegagalan di negara tersebut akan sangat menentukan arah bisnisnya ke depan.